makalah sistem tangka
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Makhluk
hidup yang ada di dunia ini dikelompokkan menjadi 2 bagian berdasarkan ada
tidaknya tulang belakang. Makhluk hidup yang memiliki tulang belakang disebut
vertebrata dan yang tidak memiliki tulang belakang disebut invertebrata.
Vertebrata sendri memiliki 2 sistem rangka, yaitu endoskeleton dan eksoskeleton. Contoh hewan vertebrata
adalah ikan, katak, burung, kadal, marmot, dan lain sebagainya.
Sistem rangka merupakan sistem organ
terpenting dalam mempelajari morfologi, serta memegang peran utama dalam
analisis struktur vertebrata. Rangka vertebrata merupakan endoskeleton (rangka
dalam), terdiri atas tulang dan tulang rawan yang saling berhubungan. Selain mempunyai endoskeleton, pada pisces,
reptilia dan aves terdapat pula sisik, dan pada golongan kura-kura terdapat
karapas dan plastron yang dapat dianggap sebagai rangka luar atau eksoskeleton.
Sistem rangka mempunyai fungsi antara lain sebagai: (1) pelindung organ dalam,
(2) penunjang tubuh, (3) tempat melekatnya otot rangka, (4) alat gerak pasif (penyalur
gerakan), dan (5) tempat pembentukan sel-sel darah (Tenzer,. dkk, 2014)
Karakteristik
rangka vertebrata akuatik berbeda dengan vertebrata terestrial. Tubuh pisces
ditopang oleh lingkungan air sekelilingnya, karena itu rangkanya tidak perlu
sekuat rangka hewan-hewan darat. Struktur tulang vertebrata merupakan adaptasi
terhadap lingkungan hidupnya. Misalnya, struktur tulang burung spesifik dan
berongga. Struktur sedemikian menyebabkan berkurangnya massa rangka, yang
sangat menguntungkan untuk terbang (Tenzer,. dkk, 2014).
BAB II
PEMBAHASAN
A. SISTEM
RANGKA
Sistem
rangka merupakan suatu sistem yang dibangun oleh struktur-struktur keras dari
tubuh yang sifatnya menyokong dan melindungi. Sistem ini meliputi eksoskeleton,
dan endoskeleton. Eksoskeleton secara embriologis berasal dari epidermis saja,
dermis saja, atau keduanya. Sedangkan endoskeleton secara embriologis berasal
dari jaringan subdermal, yaitu endoskeleton tulang, endoskeleton rawan dan
korda. Eksoskeleton ummnya dijumpai pada hewan invertebrata. Pada vertebrata
lebih dikenal sebagai dermal skeleton. Endoskeleton umumnya dijumpai pada hewan
veretebrata. Sistem rangka adalah suatu sistem organ yang memberikan dukungan
fisik pada makhluk hidup. Sistem rangka umumnya dibagi menjadi tiga tipe: eksternal,
internal, dan basis cairan (rangka hidrostatik), walaupun sistem rangka
hidrostatik dapat pula dikelompokkan secara terpisah dari dua jenis lainnya
karena tidak adanya struktur penunjang (Nature, 2012).
Menurut
(Syarifuddin, 2006: 145) tulang diklasifikasikan menurut bentuknya terbagi atas:
1. Tulang
panjang, yaitu tulang yang berbentuk silindris, yang terdiri dari diafisis dan
epifisis yang berfungsi untuk menahan berat tubuh dan berperan dalam pergerakan.
2. Tulang
pendek, yaitu tulang yang berstruktur kuboid yang biasanya ditemukan berkelompok yang berfungsi memberikan
kekuatan kekompakan pada area yang pergerakannya terbatas.
3. Tulang
pipih, yaitu tulang yang strukturnya mirip lempeng yang berfungsi untuk memberikan
suatu permukaan yang luas untuk perlekatan otot dan memberikan perlindungan.
4. Tulang
ireguler, yaitu tulang yang bentuknya tidak beraturan dengan struktur tulang
yang sama dengan tulang pendek.
5. Tulang
sesamoid, yaitu tulang kecil bulat yang masuk dalam formasi persendian yang bersendian yang bersambungan
dengan kartilago, ligament, atau tulang lainnya.
Tulang
tempurung kepala terdiri atas cranium sebagai tempat otak, capsula untuk tempat
beberapa pasang organon sensoris (olfactory, optic, auditory) dan skeleton
viceralis, yang merupakan bagian pembentuk tulang rahang dan penyokong lidah insang untuk mekanisme.
Tengkorak (tempurung) kepala melekat dekat sekali dengan columna vertebralis,
oleh karena itu ikan tidak bisa memutar kepalanya. Gigi biasanya terdapat pada
tulang premaxillary dentary, vomer dan tulang palatina. Chondrichthyes memiliki
tulang kartilago kranium sempurna, organ pembau dan kapsul optic tergabung
menjadi satu. Eksoskeleton ostracodermi mempunyai kesamaan dengan dentin pada
kulit Elasmobrachii yang merupakan mantel keras seperti email pada gigi
Verterata. Di bawah lapisan tersebut terdapat beberapa lapisan tulang sponge
dan di bawahnya lagi terdapat tulang padat. Kartilago palate quadrat dan
kartilago Meckel adalah tulang rawan yang akan membentuk rahang atas dan rahang
bawah. Ikan hiu dan ikan pari, rahangnya bersendi pada tulang ke posterior atau
pada elemen hiomandibula dari lengkung insang ke 2 (Gunarso, 1979: 215).
B. SISTEM
RANGKA PISCES (IKAN)
1.
Struktur Histologis
Bentuk tubuh ikan merupakan
interaksi antara sistem rangka dengan sistem otot serta evolusi dalam adaptasi
kedua sistem tersebut terhadap lingkungannya. Rangka yang menjadi penegak tubuh
ikan terdiri dari tulang rawan dan atau tulang sejati. Osteichthyes terdiri dari
tulang sejati. Sebagian besar tulang Osteichthyes pada permulaannya terbentuk
melalui tahap tulang rawan, kemudian materialnya menjadi tulang sejati dalam
bentuk bentuk yang khusus melalui osifikasi. Osifikasi merupakan proses
perubahan tulang rawan menjadi tulang sejati atau tulang keras (Ville,. dkk,
1999).
Tulang
tengkorak pada ikan berfungsi untuk membungkus atau melindungi otak karena otak
merupakan organ yang lembut, tetapi mempunyai peranan yang besar bagi kehidupan
ikan. Tengkorak ikan Elasmobranch terbentuk dari satu tulang rawan yang disebut
chondrocranium dan dilengkapi branchiocranium beserta derivate-derivatnya.
Chondrocranium pada ikan elasmobranch memiliki kotak-kotak yang membentuk atap
otak yang tidak komplek. Sedangkan tengkorak ikan bertulang sejati tersusun
atas dua bagian yaitu neurocranium dan branchiocranium. Neurocranium terdiri
dari bagian endosteal yang membentuk lantai kotak otak dan ectosteal yang
membentuk atap otak. Bentuk atap otaklah yang nantinya mempengaruhi bentuk wajah
dari ikan tersebut (Ville,. dkk, 1999).
2.
Struktur Anatomi
Secara garis besar tubuh ikan
tersusun atas tiga bagian, yaitu kepala, batang tubuh dan ekor. Pada tubuh ikan
yang berbentuk simetri, yaitu terdiri atas dua belahan yang sama apabila tubuh
dibelah dua menjadi dua belahan yang sama, dari kepala ke sampai ekor dengan
arah punggung perut. Pada ujung depan terdapat mulut, diatas mulut terdapat
cekung hidung yang sebelah-menyebelah, pada bagian kepala terdapat sepasang
mata dan tutup insang. Pada tubuh ikan tertutup oleh selaput tipis yang tembus
oleh sinar, kulitnya banyak mengandung kelenjar lendir yang berfungsi untuk
menghindarkan goresan pada saat ikan berenang dengan cepat.
Rangka ikan berdasarkan letaknya
dapat dibedakan menjadi 2, yaitu eksoskeleton dan endoskeleton. Sisik dan sirip
ikan merupakan eksoskleton, sedang endoskeleton terdiri atas tulang tempurung
kepala, columna vertebralis, cingulum pectoralis, tulang-tulang kecil tambahan
yang menyokong sirip.
Struktur
rangka pisces terdiri atas 2 bagian, yaitu rangka aksial dan rangka apendikular. Rangka aksial pisces
terdiri dari tulang-tulang tengkorak (terdiri 180 tulang), dan kolumna
vertebralis. Tulang-tulang
tempurung kepala terdiri atas cranium sebagai tempat otak, capsula untuk tempat
beberapa pasang organon sensoris (olfactory, optic, auditory) dan
skeleton viceralis, yang merupakan bagian pembentuk tulang rahang dan penyokong
lidah insang untuk mekanisme. Tengkorak (tempurung) kepala melekat
dekat sekali dengan columna vertebralis, oleh karena itu ikan tidak bisa
memutar kepalanya. Gigi biasanya terdapat pada tulang premaxillary dentary,
vomer dan tulang palatine (Jasin, 1984).
Kolumna vertebralis pada
pisces hanya terbagi menjadi vertebra badan dan vertebra ekor yang tersusun dari
belakang tengkorak sampai ke pangkal ekor. Daerah abdominal (badan) memiliki
tulang rusuk (kosta) kiri dan tulang rusuk (kosta) kanan. Kosta berguna untuk melindungi organ-organ di dalam
rongga badan. Ikan Telostei primitif mempunyai 2 rangkaian rusuk yang
berhubungan dengan masing-masing sentrum kolumna vertebralis, yaitu rusuk
dorosal dan rusuk ventral. Rusuk ventral kiri dan kanan pada bagian ekor
bertemu dibawah arteri dan vena ekor untuk membentuk lengkung hemal (Tenzer,
dkk, Tanpa tahun).
Rangka apendikular
tersusun dari gelang pektoral dan gelang pelvis. Gelang pektoral pada ikan
bertulang terdiri dari korakoid dan skapula yang biasanya tereduksi. Struktur
dari tulang membran (tulang dermal) meliputi klavikula yang tereduksi, kleitrum
dan supra kleitrum. Gelang pelvis pada ikan
terdiri dari keeping-keping pelvis bertulang atau bertulang rawan yang
bersendian dengan sirip pelvis. Pada ikan bertulang rawan, keping-keping
tersebut bertemu dibagian tengah
membentuk simfisis pubis (Tenzer, dkk, Tanpa tahun).
Tulang-tulang anggota
badan bebas pada ikan (extremis liberare) berupa sirip (pinna). Terdapat 2
macam sirip pada ikan, yaitu sirip tunggal dan sirip berpasangan (Tenzer, dkk,
Tanpa tahun).
1.
Sirip tunggal pada ikan disebut juga sirip median. Sirip
ini terdiri dari:
·
Sirip dorsal atau sirip punggung (pinnal dorsalis);
terdapat pada sepanjang garis medio dorsal.
·
Sirip anal (pinna analis); terdapat diantara anus dan
ekor.
·
Sirip ekor (pinna kaudalis); terdapat pada ujung ekor.
Fungsi sirip dorsal dan
sirip anal adalah menjaga agar posisi tubuh tidak terbalik atau oleng ketika
berenang, sedangkan sirip ekor berfungsi sebagai kemudi.
Terdapat 4 tipe sirip
ekor, yaitu:
·
Tipe protoserkal; kolumna vertebralis bagian dorosal
dan ventral terbagi hampir sama, ujung ekor membulat dan biasanya terdapat pada
siklostomata dewasa.
·
Tipe difiserkal; kolumna vertebralis lurus ke ujung
ekor. Ekor terbagi simetris dari luar maupun dalam, ujung ekor meruncing, dan
biasanya terdapat pada ikan paru-paru.
·
Tipe heteroserkal; kolumna vertebralis ke ekor agak
membelok kebagian dorsal, sehingga ekor terbagi asimetris baik dari dalam
maupun luar, dan biasanya terdapat pada Selachei dan Ganoidae.
·
Tipe homoserkal; kolumna vertebralis berhenti pada
pangkal ekor. Ekor terbagi simetris dari luar, asimetris dari dalam, dan
biasanya terdapat pada ikan berangka tulang.
Tipe
sirip ekor pada ikan dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 1 Tipe Sirip Ekor
2.
Sirip berpasangan terdiri dari:
·
Sirip dada (pinnae torakales/pektorales).
·
Sirip pelvis atau sirip perut (pinnae abdominales).
Sirip ini tidak dimiliki oleh belut.
Sirip berpasangan juga
berfungsi sebagai penyeimbang tubuh.
Berdasarkan letaknya rangka ikan dibagi menjadi 6 bagian,
yaitu:
· tulang tengkorak
· tulang punggung
· tulang rusuk
· tulang penyokong insang, disebut rangka visceral
· tulang penyokong sirip, disebut rangka appendicular
· tulang-tulang penutup insang; terbagi menjadi 4 bagian,
yaitu:
o Operculum
o sub operculum – di bawah
o pre operculum – di depan
o interculum – diantara
Struktur
rangka pisces/ikan dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar2 Kerangka Ikan
C. SISTEM
RANGKA AMFIBI (KATAK)
1.
Struktur Histologis
Rangka katak tersusun atas endoskeleton yang
disokong oleh bagian yang lunak. Pada fase berudu tulangnya masih lunak dan
menjadi keras pada fase dewasa. Pada sambungan-sambungan tulang masih
tetap lunak dengan permukaan yang licin (Ahmad, 2013).
Pada
katak, tulang yang panjang dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu bagian atas pada
bagian central yang disebut diaphyse dan kedua ujung yang disebut epiphyse.
Pada diaphyse dan epiphyse terdapat hubungan yang tidak teratur dan terkunci
oleh sutura. Sutura tersebut masih berupa tulang rawan yang masih dapat tubuh
terus, sedangkan pada burung dan sebagian besar mammalia, masing-masing sutura
menjadi tulang keras pada saat tertentu sehingga pertumbuhan tidak terjadi
(Ahmad, 2013).
2.
Struktur Anatomi
Skeleton pada katak/amfibi dibagi menjadi 2, yaitu:
a.
Skeleton aksial: tempurung kepala,
vertebrae, dan sternum.
b.
Skeleton apendikular : kaki.
Tempurung kepala yang
besar dan pipih terdiri atas:
a.
cranium yang sempit,
b.
beberapa pasang kapsula sensoris
dari hidung kapsula pendengaran dan kapsula yang besar untuk mata, dan
a. c.
tulang-tulang rahang yang terdiri dari os hyoid dan tulang rahang dari
larynx (skeleton
viseral).
Amfibi
mempunyai tengkorak yang tebal dan luas secara proporsional. Tengkorak
amfibi modern mempunyai tulang-tulang premaksila (rahang atas), nasal (tulang
hidung), frontal, parietal, dan skuamosa. Tidak ada langit-langit atau palatum
sekunder pada amfibi. Akibatnya, neres internal lebih maju di dalam
langit-langit mulut. Di bagian ventral otak ditutupi oleh tulang dermal yang
dinamakan parasfenoid. Gigi amfibi terletak pada premaksila, maksila, palatine,
vomer, parasfenoid, dan tulang dental (Ahmad, 2013).
Ada
beberapa amfibi yang sama sekali tidak memiliki gigi, atau gigi pada rahang
bawah mereduksi. Jumlah vertebra atau ruas tulang belakang pada amfibi
bervariasi dari 10 ruas pada Salientia sampai 200 pada Gymnophiona. Tengkorak
bersendi dengan tulang tengkuk, jumlah vertedrata kaudalnya bervariasi
(Ahmad, 2013).
Bangsa
Amphibia merupakan vertebrata yang pertama mempunyai sternum (tulang dada)
tetapi perkembangannya kurang sempurna. Tulang iga hanya pendek dan kurang
berkembang sehingga tidak berhubungan dengan sternum seperti yang terjadi pada
reptil, burung, atau mamalia (Ahmad, 2013).
Sebagian
besar amfibi mempunyai dua pasang tungkai dengan 4 jari (digiti) kaki pada kaki
depan dan 5 jari pada jari belakang. Jumlah digiti pada amfibi mungkin ada yang
berkurang 2 buah. Tungkai belakang berkurang seperti pada salamander, dan
pasangan tungkai tidak ada pada Caecillia. Tungkai biasanya tidak mempunyai
kuku, tetapi ada semacam tanduk pada jari-jarinya. Tulang punggung bersambung
dengan kepala dan ekstrimitas berfungsi menyokong tubuh dan melindungi
sumsum, terdiri atas 9 columna vertebralis dan urostyle. Masing-masing
vertebrae merupakan satu segmen pendek yang fleksibel. Tiap-tiap vertebrae
terdiri dari centrum atau corpus yang memiliki lengkung atas (archus neuralis)
sebagai tempat semsum. Sebelah atasnya terdapat cuatan neuralis yang terdapat
pada sepasang processus articularis yang membuat vertebrae sedikit bergerak
(Ahmad, 2013). Namun, beberapa amfibi memliki tulang tempurung kepala
bersenyawa yang tidak dapat digerak-gerakkan (Ahmad, 2013).
Struktur
rangka katak dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar3 Sistem Rangka Katak
D. SISTEM
RANGKA REPTIL (KADAL)
1.
Struktur Histologis
Sistem
rangka pada kadal kebun dapat di bedakan menjadi dua bagian yaitu endoskeleton
dan ensoskeleton (Puspita, 2013).
a.
Eksoskeleton; berasal dari epidermis,
berupa sisik (squama) menanduk yang menyelubungi permukaan tubuhnya dan posisi
seperti sususnan genting. Bentuk squama kadal berbeda antara bagian kepala,
badan, ekor.
b.
Endoskeleton; terdiri dari sekeleton
aksial dan apendikular. Sekeleton aksial terdiri tengkorak, kolumna
vertebralis, sternum dan rusuk.
Vertebrae ekor pada kadal tidak
menulang secara sempurna, ekor mudah putus, tetapi dapat mengalami regenerasi.
Kolumna vertebralis kadal terbagi menjadi servikal, torax, lumbar, sakral, dan
kaudal. Pada kadal juga terdapat tulang rusuk yang bebas. Sebagian
tulang-tulang reptil terdiri atas kartilago. (Puspita, 2013).
2.
Struktur Anatomi
Tubuh
kadal kebun terdiri dari tiga bagian yaitu: caput (kepala), serviks (leher),
truncus (badan), dan kaudal (ekor). Bagian caput berbentuk seperti pyramid dan
bila dibandingkan dengan tubuhnya, ukurannya relatif kecil. Mulutnya berbentuk
celah melebar. Terdapat sepasang mata yang terletak pada bagian dorsolateral.
Masing-masing mata memiliki dua pelupuk yang dapat digerakkan dan terdapat
membran niktitans yang transparans (terletak pada ujung anterior mata). Membran
ini berfungsi untuk membersihkan kornea pada saat diperlukan. Pada bagian sisi
lateral terdapat celah dangkal berbentuk oval yang merupakan lubang telinga
luar (Puspita, 2013).
a.
Caput
Caput
adalah bagian tubuh pada daerah anterior. Bagian-bagian dari caput adalah
sebagai berikut.
1.
Rima oris terletak diantara anterior
caput
2.
Labium superior dan inverior
3.
Organon visus, yang dilengkapi dengan
adanya palpebra superior dan inferior yang keduanya dapat digerakkan. Disamping
itu dijumpai pula adanya membrane melintang disudut anterior orbita.
4.
Sepasang nares anterior yang terletak
diujung depan maksila.
5.
Porus acusticus eksternum, terletak
dibelakang mata.
b. Truncus
Truncus
berbentuk memanjang yang ditutup oleh squama (sisik) yang berbentuk heksagonal.
Pada truncus juga dijumpai adanya extrimitas (anggota badan bebas) yang terbagi
atas extremitas cranialis (posterior) dan extremitas anterior. Extremitas ini
terbentuk oleh branchium, antribrancium, manus. Pada bagian extremitas memiliki
falcula (jari-jari) yang berjumlah 5 buah dibagian anterior (poluks, socundus,
medium, numulus dan minimus) dan yang berada dibagian posterior berjumlah 3
falcula (femur, crus, pes) yang memiliki 5 buah digiti (jari-jari) bervakuola,
yang nama jari-jarinya sama dengan extremitas anterior kecuali pada urutan
pertama disebut hallux (Puspita, 2013).
c. Serviks
Serviks atau leher merupakan bagian
yang dapat digerakkan. Bagian serviks panjang dan berlanjut dengan badan,
bagian serviks ini hanya ditandai oleh adanya lekukan saja.
d. Caudal
Caudal
berbentuk silindris dengan panjang hampir dua kali panjang badan ditambahkan
dengan panjang kepala. Pada bagian pangkalnya tebal dan makin meruncing ke arah
distal. Pada bagian badan terdapat dua pasang alat gerak yaitu bagian anterior
dan bagaian posterior. Pada bagian ventral terdapat lubang kloaka yang
berbentuk celah melintang. Pada jenis kadal yang ditemukan di India (Uromastix), terdapat beberapa lubang
preanofemoral yang terdapat pada bagian pangkal alat gerak bagian belakang
(Puspita, 2013).
Sebagaimana galibnya
reptil, kadal kebun berdarah dingin (itu sebabnya kadal kebun kerap berjemur)
dan mempunyai sisik-sisik yang beraneka bentuknya yang terbangun dari zat
tanduk. Beberapa jenis kadal mempunyai sisik-sisik yang halus berkilau,
terkesan licin atau seperti berminyak, walaupun sebenarnya sisik-sisik itu amat
kering karena kadal tidak memiliki pori di kulitnya untuk mengeluarkan keringat
atau minyak Beberapa spesies kadal kebun tak berkaki, seperti ular kaca
misalnya, memiliki struktur gelangan bahu dan panggul dalam tubuhnya, meski tak
ada tungkainya. (Puspita, 2013).
Struktur
rangka reptil dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar4 Kerangka Kadal (Anonim.
2010)
E.
SISTEM RANGKA AVES (BURUNG)
1.
Struktur Histologis
Struktur
rangka pada burung banyak mengalami diferensiasi, misalnya pada bagian kolumna vertebralis atau
tulang belakang. Vertebra pada burung (misalnya burung dara) dibagi menjadi 4 bagian,
yaitu vertebra torakalis terakhir (posterior), vertebra lumbalis,
vertebra sakralis dan vertebra kaudalis anterior. Keempat vertebra tersebut
bersatu membentuk sinsakrum (Mutiara, 2011).
Tidak hanya
pada bagian vertebra, bagian sternum (dada) berdiferensiasi menjadi lebar dan
kuat, yang disebut karina sterni. Sternum tersebut berfungsi untuk perlekatan
otot-otot pektoral yang kuat, yang berperanan penting untuk terbang. Rusuk
sterna (rusuk ventral) pada aves tersusun dari jaringan tulang rawan (Rani,
2012).
Pada aves
terdapat tulang-tulang gelang bahu yang meliputi pola dasar gelang pektoral
yang terdiri dari tulang-tulang pengganti (berasal dari tulang rawan), meliputi
korakoid dan skapula, dan tulang-tulang membran (berasal dari jaringan ikat),
yaitu klavikula. Pada aves yang dapat terbang, kedua klavikula bersatu dibagian
tengah dengan interklavikula, membentuk furkula yang berbentuk huruf V. Bagian
ujung furkula dilekatkan dengan sternum oleh suatu ligamen. Aves memiliki
korakoid sepasang, kokoh, dan bersendian dengan sternum, sedangkan skapula
tersusun sepasang, panjang, dan bersendian dengan kosta (Mutiara, 2011).
2. Struktur
Anatomi
Kerangka
burung sangat beradaptasi untuk terbang. Kerangka tersebut sangat ringan, namun
cukup kuat untuk menahan tekanan pada saat lepas landas, terbang, dan mendarat.
Salah satu kunci adaptasi yakni tergabungnya tulang dalam osifikasi tunggal. Hal ini membuat burung memiliki jumlah tulang yang
sedikit dibanding vertebrata lain yang hidup di darat. Burung
juga tidak memiliki gigi bahkan rahang, namun memiliki paruh yang lebih ringan.
Paruh pada anak burung memiliki "gigi telur" yang digunakan untuk
membantu keluar dari cangkang telur (Mutiara, 2011).
Burung memiliki
banyak tulang yang berongga yang saling bersilang untuk menambah kekuatan
struktur tulang. Jumlah tulang berongga bervariasi antarspesies, meskipun burung yang terbang dengan melayang atau
melambung cenderung memiliki tulang berongga yang lebih banyak. Kantung udara
dalam sistem pernapasan sering membentuk kantung-kantung udara dalam tulang
semi berongga pada kerangka burung. Beberapa burung yang tidak mampu terbang
seperti penguin atau burung unta hanya memiliki tulang yang padat, hal ini membuktikan
hubungan antara kemampuan terbang burung dengan adaptasi pada sistem rongga
pada tulang (Rani, 2012).
Rangka aves terdiri dari rangka
aksial dan rangka apendikular. Rangka aksial yang tersusun atas caput (kepala),
kolumna vertebralis (tulang belakang), truncus (badan), dan kosta
(tulang-tulang rusuk), sedangkan rangka apendikular pada aves tersusun atas
extremitas (tulang-tulang anggota gerak).
Pada bagian caput terdapat
tulang-tulang tengkorak kepala yang terdiri dari beberapa tulang, yaitu rostum
(paruh), cranium (tulang kotak otak), nares (lubang hidung), dan tulang rongga
mata. (Staf dosen Universitas Yogyakarta, 1990). Rostum terdiri dari 2 bagian,
yaitu os premaksila (paruh
bagian atas yang langsung berhubungan dengan nares) dan mandibula (paruh bawah).
Kranium terdiri dari os frontal
(tengkorak bagian atas), os parietal,
dan os oksipital. Tengkorak burung normal biasanya
beratnya sekitar 1% dari berat badan keseluruhan burung. Mata burung menempati
sebagian besar tengkorak dan dikelilingi oleh cincin mata-sklerotik, cincin
tulang kecil yang mengelilingi mata.
Sistem
tulang belakang (kolumna vertebralis) aves dapat dibagi menjadi 5 bagian, yaitu
vertebra servikalis (leher),
vertebra torakalis (bagian badan), synsacrum
(menyatu pada tulang punggung, juga menyatu pada pinggul), vertebra kaudalis
(ekor), dan pygostyle (ujung
ekor). Ruas pertama pada vertebra servikalis disebut tulang atlas, sedangkan
ruas kedua disebut tulang aksis. Burung memiliki tulang leher (bagian collum/cervix) yang lebih banyak dibanding binatang
lainnya. Kebanyakan burung memiliki tulang leher yang sangat fleksibel yang
terdiri dari 13 - 25 tulang.
Pada bagian
truncus, tepatnya bagian sternum (dada) terdapat cinglum anterior/ cinglum
pektoral (gelang bahu) yang dibentuk oleh tulang-tulang frucula (tulang garpu),
korakoid (tulang leher), dan skapula (tulang belikat). Ketiga tulang tersebut
bersama-sama membentuk pektoral korset.
Sisi dada dibentuk oleh tulang rusuk, yang bertemu di tulang dada (Hasan,
2012). Frucula berfungsi sebagai penopang otot pada saat terbang, atau serupa pada
penguin untuk menopang otot pada saat berenang. Adaptasi ini tidak
dimiliki oleh burung yang tidak bisa terbang seperti burung unta. Menurut catatan, burung perenang memiliki tulang dada yang
lebar, burung yang berjalan memiliki tulang dada yang panjang atau tinggi,
sementara burung yang terbang memiliki tulang dada yang panjang dan tingginya
mendekati sama (Mutiara, 2011).
Burung
memiliki bengkokan tulang
rusuk yang
merupakan perpanjangan tulang yang membengkok yang berfungsi untuk menguatkan tulang rusuk dengan saling bertumpang tindih. Fitur ini juga ditemukan
pada Sphenodon. Sphenodonjuga memiliki tulang panggul tetradiate yang memanjang seperti
pada beberapa reptil. Sphenodon memiliki tengkorak diapsid seperti
pada reptil dengan lekukan air mata. Tengkoraknya memiliki oksipital kondilus
tunggal (Hasan, 2012).
Pada bagian kosta (tulang-tulang
iga) terdapat kosta servikalis yang melekat pada vertebra servikalis dan kosta
torakalis yang melekat pada vertebra torakalis (Staf dosen Universitas
Yogyakarta, 1990).
Extremitas anterior pada aves
tersusun atas tulang bahu yang terdiri dari skapula (tulang belikat), korakoid
(tulang leher), dan humerus
(tulang lengan atas). Humerus bergabung dengan radius
(tulang pengumpil) dan ulna (tulang hasta) untuk membentuk siku.
Tulang-tulang karpal dan metakarpal membentuk karpometakarpus (Rani,
2012).
Pinggul aves terdiri dari panggul yang meliputi tiga tulang utama: Illium (atas pinggul), iskhium
(bagian posterior), dan pubis
(bagian anterior). Ketiga tulang ini menyatu menjadi satu membentuk tulang innominate. Tulang innominate merupakan evolusi yang
signifikan yang memungkinkan burung untuk bertelur. tulang innominate bertemu di acetabulum (soket pinggul) dan
mengartikulasikan dengan femur (tulang paha), yang merupakan tulang pertama
dari kaki belakang (Hasan, 2012).
Extremitas
posterior aves berupa kaki. Bagian atas terdiri dari os femur (tulang paha).
Pada sendi lutut (patella), femur menghubungkan ke tibiotarsus (tulang tibia yang bersatu dengan bagian proksimal
dari tulang tarsal) dan fibula
(sisi tungkai bawah). Tarsometatarsus (persatuan antara tulang-tulang tarsal
bagian distal dengan metatarsal) membentuk bagian atas kaki aves, serta jari
(digiti) yang membentuk kaki. Tulang kaki burung merupakan tulang yang paling
berat, berkontribusi pada rendahnya titik berat burung. Hal ini membantu dalam
penerbangan. Sebuah kerangka burung terdiri dari hanya sekitar 5% dari total
berat badan burung (Rani, 2012).
Struktur rangka Aves dapat dilihat pada gambar
2.5 di samping.
Gambar5
Kerangka Burung Merpati (Anonim, 2010)
Keterangan
Gambar 2.5.
2.
Servikal vertebralis 11.
Fibia 20. Lumbar
vertebrae
8.
Tarsometatarsus 17.
Pygostyle 26. Digiti
9.
Digiti 18.
Synsacrum 27. Alula
Selain itu, kaki burung
diklasifikasikan menjadi anisodactyl,
zygodactyl, heterodactyl, syndactyl atau pamprodactyl. Anisodactyl
merupakan bentuk kaki burung yang paling umum, dengan tiga jari di depan dan
satu di belakang. Bentuk seperti ini banyak ditemui di burung
penyanyi, burung pengicau, elang, rajawali,
dan falkon.
Beberapa burung memiliki bentuk kaki
syndactyl yakni bentuk kaki
yang menyerupai anisodactyl namun
jari ke tiga dan ke empat atau ketiga jari depan menyatu seperti yang terdapat
pada burung raja udang.
Jenis kaki ini merupakan karakteristik burung dari ordoCoraciiformes.
Zygodactyl (dari bahasa Yunani ζυγον, kuku)
adalah bentuk kaki burung, dengan dua jari kaki menghadap ke depan (jari 2 dan
3) dan dua jari menghadap ke belakang (jari 1 dan 4). Pengaturan ini paling
sering terjadi pada spesiesarboreal, terutama spesies
yang naik batang pohon atau memanjat melalui dedaunan. Bentuk kaki zygodactyl dapat dijumpai pada burung bayan,
burung
pelatuk dan beberapa burung hantu.
Dari hasil penelusuran, zygodactyl
telah ditemukan dari peride 120 - 110 juta tahun yang lalu (awal jaman kapur),
50 juta tahun sebelum fosilzygodactyl pertama kali di
identifikasikan (Mutiara, 2011).
Heterodactyl menyerupai zygodactyl,
yang membedakan hanya pada heterodactyl
jari 3 dan 4 menghadap ke depan sedang jari 1 dan 2 menghadap ke belakang.
Bentuk kaki seperti ini hanya ditemukan pada trogon, sedangkan pamprodactyl adalah susunan jari kaki
dimana keempat jari dapat menghadap ke depan, atau burung dapat memutar kedua
jari belakang. Bentuk kaki seperti ini merupakan karakteristik dari burung walet
(Hasan, 2012).
Berikut ini gambar berbagai jenis
kaki pada burung.

Gambar6 Jenis
kaki Aves (Anonim, 2010)
F. SISTEM
RANGKA MAMALIA
1.
Struktur Histologis
Tulang tengkorak mamalia hanya terdiri dari 35 tulang atau kurang dari itu. Meskipun berjumlah lebih sedikit, tetapi tulang-tulang tengkorak mamalia lebih kuat dan lebih padat. Rangka tengkorak terdiri dari tulang-tulang kotak otak (kranium) dan tulang-tulang wajah.
Kolumna
vertebralis (tulang belakang) dari kebanyakan vertebrata tersusun atas
serangkaian vertebra bertulang atau bertulang rawan yang memanjang dari bawah
kepala sampai ujung ekor. Masing-masing ruas tulang belakang (vertebra) terdiri
atas tiga bagian utama, yaitu badan vertebra (sentrum), lengkung neural (arkus
neuralis) dan taju neural (spina/prosesus neuralis). Penonjolan vertebra ke
arah lateral disebut prosesus transversus/artikularis. Vertebra-vertebra yang berdekatan selalu bersambungan pada
bagian sentrumnya. Di samping itu vertebra tetrapoda saling berhubungan melalui
tonjolan-tonjolan dari lengkung neural yang disebut zigapofisis (prezigapofisis
dan poszigapofisis).
Pada
reptilia dan mamalia, kolumna vertebralis dibagi menjadi 5 bagian, yaitu
vertebra servikalis (leher), vertebra torakalis (punggung), vertebra lumbalis
(pinggang), vertebra sakralis (sakral atau pelvis), dan vertebra kaudalis
(ekor). Ruas vertebra servikalis pertama disebut tulang atlas, dan ruas yang
kedua disebut tulang aksis.
Strenum
berfungsi untuk memperkuat dinding tubuh, melindungi organ-organ visera di
dalam rongga dada, sebagai tempat melekatnya otot-otot pektoral, dan untuk
membantu gerakan pernafasan paru-paru (pada beberapa amniota). Macam strenum
pada mamalia adalah manubrium, korpus sternum (sternebrae), dan sifisternum (prosesus
sifoideus) yang berupa tulang rawan.
Mamalia
mempunyai rusuk vertebral yang berkepala dua (bisipital). Kepala bagian dorsal
disebut tuberkulum, melekat pada diapofisis dari vertebra. Kelapa bagian
ventral disebut kapitulum, melekat pada parapofisis dari vertebra.
2. Struktur
Anatomi
Struktur anatomi mamalia (marmot “Cavia cobaya”) terdiri dari 4 bagian
utama, yaitu caput (kepala), serviks (leher), truncus (badan), dan extremitas
(anggota gerak).
Struktur rangka mamalia dapat dilihat pada gambar berikut
ini.

Gambar7
Kerangka Kelinci (Anonim, 2012)
DAFTAR PUSTAKA
Gunarso,
Wisnu. Dasar-Dasar Histologi. Jakarta: Erlangga, 1979.
Nature,
2012. Laporan Fiswan Sistem Rangka. NatureLovers. http://naturelovers- biomuli.
\blogspot.com/2012/05/laporan-fiswan-sistem-rangka.html,
(2013).
Syarifuddin.
Anatomi Fisiologi. Jakarta: Buku Kedokteran, 2006.
Komentar
Posting Komentar