MAKALAH MIKROBIOLOGI KULTIVASI, REPODUKSI DAN PERUBAHAN BAKTERI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mikroorganisme
merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil. Setiap sel tunggal
mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas kehidupan
antara lain dapat mengalami pertumbuhan, menghasilkan energy dan bereproduksi
dengan sendirinya.
Mikroorganisme
jenis bakteri adalah kelompok mikroorganisme yang paling penting dan beraneka
ragam, bakteri merupakan salah satu mikroba yang mempengaruhi kehidupan manusia.
(Dzen, 2003).
Bakteri
merupakan makhluk hidup yang dapat berkembang biak dengan mudah. Hal ini dapat
tercermin dari keberadaannya di semua lingkungan dalam jumlah yang sangat
banyak. Bakteri dapat berkembang biak dengan cara membelah diri. Proses pembelahan
diri pada bakteri terjadi secara biner melintang. Pembelahan biner melintang
adalah pembelahan yang diawali dengan terbentuknya dinding melintang yang
memisahkan satu sel bakteri menjadi dua sel anak. Dua sel bakteri ini mempunyai
bentuk dan ukuran sama (identik).
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan
kultivasi bakteri?
2. Bagaimana reproduksi pada
bakteri?
3. Bagaimana pertumbuhan pada
bakteri?
C. Manfaat
1. Dapat mengetahui tentang
kultivasi bakteri
2. Dapat mengetahui tentang reproduksi
pada bakteri
3. Dapat mengetahui tentang
pertumbuhan pada bakteri
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kultivasi Bakteri

1.
Pengertian dan Fungsi Media Kultivasi
Kultivasi bakteri merupakan metode untuk
melipatgandakan jumlah mikroba dengan membiarkan mereka berkembang biak dalam
media biakan yang telah disiaapkan di bawah kondisi laboratorium terkendali.
Kultur mikroba digunakan untuk menentukan jenis organisme dengan kelimpahan
dalam sampel yang di uji, atau keduanya. Ini adalah salah satu metode
mikrobiologi yang digunakan sebagai metode diagnosis untuk menentukan penyebab
penyakit infeksi dengan membiarkan agen infeksi berkembang biak dalam media
yang telah disiapkan.
Media kultivasi mikroorganisme adalah suatu bahan
yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan
mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media
berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan
media pertumbuhan maka dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur
murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya (Hidayat dkk: 2006).
Menurut Unus Surawiria (1986) media adalah susunan
bahan baik bahn alami (seperti tauge, kentang, daging, telur, wortel dan
sebagainya) ataupun bahan buatan (berbentuk senyawa kimia, organik ataupun
anorganik) yang dipergunakan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba.
Medium penumbuhan merupakan substrat yang kaya akan nutrien yang selanjutnya
digunakan untuk membiakkan mikrobia. Nutrient dapat diartikan sebagai
bahan-bahan organik dan atau bahan anorganik yang berfungsi sebagai sumber
energi atau penerima elektron bagi organisme (Suriawiria: 1986)
Agar mikroba dapat tumbuh dan berkembang dengan baik
di dalam media diperlukan persyaratan tertentu yakni bahwa: a. Di dalam media
harus terkandung semua unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangbiakan mikroba b. Media harus memiliki tekanan osmosis, tegangan
permukaan, dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroba c. Media harus dalam
keadaan steril.
Fungsi-fungsi medium
adalah sebagai berikut :
1.
Media basal dapat mendukung pertumbuhan berbagai jenis spesies tanpa syarat
nutrisi
2.
Media penghambat merupakan medium yang memuat unsur pokok tertentu yang
menghambat pertumbuhan dari jenis mikroorganisme tertentu.
3.
Medium pemeliharaan digunakan untuk pertumbuhan awal dan penyimpanan
selanjutnya, mempersiapkan kultur organisme yang disimpan baik pada suhu ruang
atau suhu dingin (Singleton, dkk, 2001).
2.
Macam-Macam Media Kultivasi
Menurut
Jawet dkk (1996) media kultivasi mikrobia meliputi:
A.
Medium berdasarkan sifat fisiknya
Medium berdasarkan sifat fisiknya dibagi menjadi :
1. Medium
padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi padat.
2. Medium
setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga menjadi
sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semisolid dibuat dengan
tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media, tetapi tidak
mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Misalnya bakteri yang tumbuh
pada media NfB (Nitrogen free Bromthymol
Blue) semisolid akan membentuk cincin hijau kebiruan di bawah permukaan
media, jika media ini cair maka cincin ini dapat dengan mudah hancur. Semisolid
juga bertujuan untuk mencegah/menekan difusi oksigen, misalnya pada media
Nitrate Broth, kondisi anaerob atau sedikit oksigen meningkatkan metabolisme
nitrat, tetapi bakteri ini juga diharuskan tumbuh merata di seluruh media.
3. Medium cair yaitu media yang tidak mengandung
agar, contohnya adalah NB (Nutrient
Broth), dan LB (Lactose Broth)
B.
Medium berdasarkan komposisi
1. Medium
sintesis yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui jenis dan takarannya
secara pasti, misalnya Glucose Agar, Mac
Conkey Agar.
2. Medium
semisintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui secara pasti,
misanya PDA (Potato Dextrose Agar) yang
mengandung agar, dekstrosa dan ekstrak kentang. Untuk bahan ekstrak kentang,
secara detail tidak dapat mengetahui tentang komposisi senyawa penyusunnya.
3.
Medium non sintesis
yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang tidak dapat diketahui secara
pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya, misalnya Tomato Juice Agar, Brain Heart Infusion
Agar, Pancreatic Extract.
C.
Medium berdasarkan tujuan
1. Media
untuk isolasi Media ini mengandung semua senyawa esensial untuk pertumbuhan
mikroba, misalnya Nutrient Broth, Blood
Agar.
2. Media
selektif/penghambat Media yang selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu
zat tertentu sehingga media tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba lain dan
merangsang pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Contohnya adalah Luria Bertani medium yang ditambah Amphisilin untuk merangsang E.coli resisten antibotik dan menghambat
kontaminan yang peka, Ampiciline. Salt broth yang ditambah NaCl 4% untuk
membunuh Streptococcus agalactiae
yang toleran terhadap garam.
3. Media
diperkaya (enrichment) Media
diperkaya adalah media yang mengandung komponen dasar untuk pertumbuhan mikroba
dan ditambah komponen kompleks seperti darah, serum, dan kuning telur. Media
diperkaya juga bersifat selektif untuk mikroba tertentu. Bakteri yang
ditumbuhkan dalam media ini tidak hanya membutuhkan nutrisi sederhana untuk
berkembang biak, tetapi membutuhkan komponen kompleks, misalnya Blood Tellurite Agar, Bile Agar, Serum Agar,
dan lain-lain.
4. Media
untuk peremajaan kultur. Media umum atau spesifik yang digunakan untuk
peremajaan kultur.
5. Media
untuk menentukan kebutuhan nutrisi spesifik Media ini digunakan untuk
mendiagnosis atau menganalisis metabolisme suatu mikroba. Contohnya adalah Koser’s Citrate medium, yang digunakan
untuk menguji kemampuan menggunakan asam sitrat sebagai sumber karbon.
6.
Media untuk
karakterisasi bakteri Media yang digunakan untuk mengetahui kemempuan spesifik
suatu mikroba. Kadang-kadang indikator ditambahkan untuk menunjukkan adanya
perubahan kimia. Contohnya adalah Nitrate
Broth, Lactose Broth, Arginine Agar.
7. Media
diferensial. Media ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikroba dari
campurannya berdasar karakter spesifik yang ditunjukkan pada media diferensial,
misalnya TSIA (Triple Sugar Iron Agar)
yang mampu memilih Enterobacteria berdasarkan
bentuk, warna, ukuran koloni dan perubahan warna media di sekeliling koloni.
D.
Medium TA dan TC
Medium (Taoge Agar) berdasarkan
susunannya merupakan medium organik semi alamiah atau semi sintetis sebab
terdiri dari bahan alamiah yang ditambah dengan senyawa kimia; berdasarkan
konsistensinya merupakan medium padat karena mengandung agar yang memadatkan
medium; berdasarkan kegunaannya merupakan medium umum yang dapat ditumbuhi oleh
mikroorganisme secara umum yang berfungsi untuk pertumbuhan bakteri dan jamur
serta memiliki warna cream.
Medium TA terdiri dari tauge yang berfungsi sebagai
sumber energi, nitrogen organik, karbon dan vitamin, sukrosa sebagai sumber
karbon, agar sebagai bahan pemadat medium dan aquadest sebagai pelarut untuk
menghomogenkan medium dan sumber O2. Medium TA digunakan untuk menumbuhkan
jamur (khamir dan kapang). Medium TA ini, berdasarkan konsistensinya termasuk
dalam medium (solid medium). Berdasarkan fungsinya, TA termasuk medium penguji
(assay medium), karena dapat digunakan untuk pengujian 11 vitamin, asam-asam
amino, dan lain-lain. Melalui medium ini dapat diamati bentuk-bentuk koloni dan
bentuk pertumbuhan jamur.
Medium TC (Taoge Cair) berdasarkan susunannya
merupakan medium organik semi alamiah atau semi sintetis sebab terdiri dari
bahan alamiah yang ditambah dengan senyawa kimia; berdasarkan konsistensinya
merupakan medium cair karena mengandung agar konsistensi cair; berdasarkan
kegunaannya merupakan medium umum yang dapat ditumbuhi oleh mikroorganisme
secara umum yang berfungsi untuk pertumbuhan bakteri dan jamur serta memiliki
warna cream.
Medium TC terdiri dari tauge yang berfungsi sebagai
sumber energi, nitrogen organik, karbon dan vitamin, sukrosa sebagai sumber
karbon, agar sebagai bahan pemadat medium dan aquadest sebagai pelarut untuk
menghomogenkan medium dan sumber O2. Medium TC digunakan untuk
mengembangbiakkan mikroorganisme dalam jumlah besar. Bahan-bahan yang digunakan
untuk membuat medium TA dan TC, antara lain:
1. Tauge,
berfungsi sebagai sumber energi dan bahan mineral bagi mikroba, pemberi vitamin
E yang diperlukan oleh mikroba, juga sebagai sumber nitrogen.
2. Sukrosa,
sebagai sumber karbohidrat, sumber karbon organik, sebagai sumber energi bagi
mikroba.
3. Agar,
sebagai bahan pemadat medium. (TC tidak memakai agar)
4. Aquadest,
sebagai bahan pelarut untuk menghomogenkan larutan. Pada akhir percobaan
sebelum digunakan untuk menumbuhkan mikroba medium harus disterilkan dalam
autoklaf pada suhu 121 0 C dan tekanan 2 atmosfer dengan tujuan agar medium
tersebut bebas dari pengaruh mikroba yang ada di udara luar.
3.
Teknik Kultivasi Bakteri
Setelah semua bahan dan alat yang
akan digunakan dalam proses kultivasi disterilkan, maka dimulailah proses
isolasi untuk mendapatkan biakan murni.Bahan yang diinokulasikan pada medium
disebut inokulum. Di bawah ini ada beberapa teknik inokulasi yang umum
dilakukan di laboratorium mikrobiologi.
a. Teknik Penyebaran (
The Spread-Plate Technique )
Teknik penyebaran yang lebih sering disebut dengan
Spread-Plate adalah teknik langsung dan mudah untuk mendapatkan suatu biakan
murni. Di bawah ini adalah gambar saat menginokulasi mikroba dengan menggunakan
teknik Spread-Plate.

Campuran dari beberapa spesies
bakteri disebarkan di permukaan medium agar, sehingga setiap sel akan tumbuh
menjadi koloni yang terpisah sempurna dan dapat dilihat secara makroskopis
berupa kumpulan mikroba di atas medium padat. Setiap koloni yang terbentuk
merupakan biakan murni
b. Teknik Goresan ( The
Streak-Plate Technique )
Biakan
murni juga dapat diperoleh dengan teknik goresan ( Streak-Plate Technique ). Inokulum digoreskan di atas medium
dengan memakai ose menurut pola tertentu, yaitu :
Goresan
T

Untuk membuat
biakan murni dangan teknik goresan T, ada beberapa langkah yang harus diikuti,
yaitu :
Ø Lempengan
dibagi menjadi 3 bagian dengan hutuf T pada bagian luar dasar cawan petri.
Ø Inokulasi
daerah I sebanyak mungkin dengan gerakan sinambung.
Ø Panaskan ose dan biarkan dingin kembali.
Ø Gores ulang daerah I sebanyak 3-4 kali dan
teruskan goresan di daerah II.
Ø Pijarkan kembali ose dan biarkan dingin
kembali.
Ø Prosedur diatas diulang untuk daerah III
Goresan
Kuadran

Teknik ini sama
dengan goresan T, hanya lempengan agar dibagi menjadi 4
Goresan
Radian

Ø Goresan dimulai dari bagian pinggir lempengan.
Ø Pijarkan ose dan dinginkan kembali.
Ø Putar lempengan agar 90o dan buat goresan
terputus dimulai dari bagian pinggir lempengan.
Ø Putar lempengan agar 900 dan buat goresan
terputus di atas goresan sebelumnya.
Ø Pijarkan ose.
Goresan
Sinambung

Ø Ambil satu mata ose suspensi dan goreskan
setengah permukaan lempengan agar.
Ø Jangan
pijarkan ose, putar lempengan 1800, gunakan sisi mata ose yang sama dan gores
pada sisa permukaan lempengan agar. Setelah inkubasi, sel-sel mikroba
memperbanyak diri dan dalam waktu 18-24 jam akan terbentuk suatu massa sel yang
disebut koloni. Koloni yang terbentuk ini adalah biakan murni.
c. Teknik lempeng tuang ( Pour Plate Technique )
Teknik
pour-plate (lempeng tuang) adalah suatu teknik di dalam menumbuhkan mikroorganisme
di dalam media agar dengan cara mencampurkan media agar yang masih cair dengan
stok kultur bakteri. Teknik ini biasa digunakan pada uji TPC (Total Plate Count). Kelebihan teknik ini
adalah mikroorganisme yang tumbuh dapat tersebar merata pada media agar.
Kultivasi mikroba dengan teknik ini dimulai dengan mengencerkan kultur bakteri
yang telah ada dengan aquades. Selanjutnya, diaduk hingga rata dengan cara
memutar tabung reaksi dengan telapak tangan selama beberapa kali. Larutan
dilusi tadi sebanyak + 1 ml dituang ke dalam cawan petri. Cawan petri diputar
secara perlahan-lahan di atas meja horizontal untuk mengaduk campuran media
agar dengan dilusi kultur mikroba. Terakhir, inkubasi kultur ini pada kondisi
yang sesuai. Tahapan di atas diilustrasikan pada gambar 5 di bawah ini.

Biakan
murni yang dihasilkan, jika disimpan dalam jangka waktu yang lama akan mudah
sekali mengalami mutasi. Ini berarti, biakan murni yang disimpan terlalu lama
bukan lagi biakan murni yang semula. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang
harus dilakukan untuk mencegah atau setidaknya mengurangi kemungkinan
terjadinya mutasi, yaitu :
Ø Secara
periodik, biakan harus dipindahkan ke medium baru, sebaiknya pemindahan
dilakukan pada fase log.
Ø Biakan harus disimpan pada suhu rendah dan
terhindar dari radiasi.
Ø Mikroba diliofilisasikan, yaitu dimasukkan
dalam ampul berisis susu kering bercampur CO 2 kemudian disimpan pada tempat
bersuhu rendah.
B. Reproduksi Bakteri
Bakteri berkembang biak secara
seksual dan aseksual. Perkembangbiakan aseksual dilakukan dengan pembelahan
biner. Setiap sel membelah secara melintang dan sel hasil pembelahan membentuk
koloni bakteri. Bentuk koloni sangat bervariasi tergantung pada arah pembelahan
dan jenis bakterinya. Pada kondisi yang memungkinkan bakteri akan membelah diri
dengan sangat cepat. Pada keadaan normal bakteri dapat mengadakan pembelahan
setiap 20 menit sekali. Jika pembelahan berlangsung satu jam, maka akan
dihasilkan delapan anakan sel. Hasil penelitian mengenai proses pembelahan sel
memperlihatkan hal-hal berikut:
·
Terdapat kenaikan
jumlah bahan inti yang terpisah menjadi dua unit, satu untuk masing-masing sel
anakan
·
Dinding sel dan
membrane sel tumbuh ke arah luar dan membrane sel tumbuh meluas ke dalam
sitoplasma pada suatu titik di tengah-tengah sel. Pada perbatasan tersebut
disintesis dua lapisan bahan dinding sel.
·
Pembentukan mesosom
menjadi lebih jelas. Mesosom mempunyai kaitan dengan pembentukan septum dan
juga memungkinkan perpautan dengan daerah inti.
Perkembangbiakan
secara seksual dilakukan tanpa melibatkan gamet dan peleburan sel, tetapi
berupa pertukaran materi genetic atau DNA. Materi genetic dapat berpindah dari
satu bakteri ke yang lain tanpa menghasilkan zigot. Proses perpindahan materi
genetic ini sering disebut rekombinasi genetic. DNA hasil pertukaran materi
genetic yang mengandung gen kedua induk disebut DNA rekombinan. Rekombinasi
genetic dapat dilakukan dengan tiga metode sebagai berikut:
a. Transformasi
Merupakan
pemindahan sebagian materi genetika dari satu bakteri ke bakteri lain. Pada
proses transformasi tersebut DNA bebas sel bakteri donor akan mengganti
sebagian dari sel bakteri penerima, tetapi tidak terjadi melalui kontak
langsung. Diduga transformasi ini merupakan cara bakteri menularkan sifatnya ke
bakteri lain. Misalnya pada bakteri Pneumococci yang menyebabkan Pneumonia dan
pada bakteri patogen yang semula tidak kebal antibiotik dapat berubah menjadi
kebal antibiotik karena transformasi. Proses ini pertama kali ditemukan pada Streptococus pneumonia oleh Frederick
Grifith tahun 1982.
Pengamatannya
menunjukkan bahwa ada dua macam tipe koloni pada bakteri tersebut yaitu koloni
halus (tipe S atau smooth ) yang bersifat patogen dan koloni kasar (tipe R atau
rought) yang non patogen. Dalam percobaannya ditemukan jika campuran bakteri
tipe S yang telah dimatikan dengan pemanasan dan sel tipe R hidup disuntikkan
pada tikus maka tikus akan mati dan dari bangkai tikus dapat diisolasi bakteri
tipe S yang hidup. Griffith mengatakan bahwa ada substansi yang berasal dari
bakteri tipe S (mati) diambil oleh bakteri tipe R (hidup) sehingga tipe R ke
tipe S inilah yang disebut dengan transformasi. Cara transformasi ini hanya
terjadi pada beberapa spesies saja. Contohnya : Streptococcus pnemoniaeu, Haemophillus, Bacillus, Neisseria, dan
Pseudomonas.
b. Transduksi
Merupakan
pemindahan sebagian materi genetik dari sel bakteri satu ke bakteri lain dengan
perantaraan virus (bakteriofage). Selama transduksi, kepingan ganda DNA
dipisahkan dari sel bakteri donor ke sel bakteri penerima oleh bakteriofage.
Bila virus – virus baru sudah terbentuk dan akhirnya menyebabkan lisis pada
bakteri, bakteriofage yang nonvirulen (menimbulkan respon lisogen) memindahkan
DNA dan bersatu dengan DNA inangnya, Virus dapat menyambungkan materi
genetiknya ke DNA bakteri dan membentuk profag. Ketika terbentuk virus baru, di
dalam DNA virus sering terbawa sepenggal DNA bakteri yang diinfeksinya. Virus
yang terbentuk memiliki dua macam DNA yang dikenal dengan partikel transduksi
(transducing particle). Proses inilah yang dinamakan Transduksi. Cara ini
dikemukakan oleh Norton Zinder dan Jashua Lederberg pada tahun 1952.
c. Konjugasi
Konjugasi adalah pemindahan bahan genetic dari
suatu sel bakteri yang bertindak sebagai donor kepada sel bakteri yang
bertindak sebagai resipien. Bakteri yang memindahkan bahan genetiknya disebut
bakteri donor, sedangkan penerimanya disebut bakteri resipien. Bahan genetic
yang dipindahkan dari bakteri donor akan bergabung dengan bahan genetic bakteri
resipien sehingga terjadi perubahan sifat. Jika baktri resipien membelah akan
dihasilkan sel anakan bakteri dengan sifat baru. Pemindahan ini dikode oleh
plamid. Plasmid adalah unsur genetis ekstra kromosomonal (diluar kromosom) dan
dapat melangsungkan replikasi di dalam sitoplasma sel bakteri. Plasmid adalah
potongan bundar DNA yang merupakan gen tambahan. Bila plasmid ini dapat
bereplikasi dan terpadu ke dalam kromosom bakteri disebut episom. Hal ini
membedakan episom dari plasmid, karena plasmid tidak terpadu ke dalam kromosom.
Pada bakteri
gram negative, misalnya Escherichia coli,
konjugasi terjadi dengan cara perlekatan antara sel donor dengan sel resipien
melalui phili sex atau faktor F (faktor kesuburan atau fertility factor). Pada
bakteri gram positif, misalnya Streptococus
faeccalis, perlekatan antara sel donor dan resipien tidak melalui phili.
C. Pertumbuhan Bakteri
Pertumbuhan adalah peningkatan
jumlah semua komponen dari suatu organism secara teratur. Pertumbuhan
didefinisikan sebagai pertambahan kuantitas konstituen seluler dan struktur
organism yang dapat dinyatakan dengan ukuran, diikuti dengan pertambahan jumlah,
pertambahan ukuran sel, pertambahan berat atau massa.
Pada organism uniseluler pertumbuhan
lebih diartikan sebagai pertumbuhan koloni, yaitu pertambahan jumlah koloni,
ukuran koloni yang semakin besar, substansi atau massa mikroba dalam koloni
tersebut semakin banyak (Aguskrisno, 2011). Pertumbuhan untuk mikroba mengacu
pada perubahan di dalam pertambahan massa sel dan bukan perubahan pada
individu.
Selama fase pertumbuhan seimbang,
pertambahan massa bakteri berbanding lurus dengan pertambahan komponen seluler
yang lain seperti DNA, RNA, dan protein. Dengan demikian setiap kali sel
membelah maka jumlah sel dalam populasi bakteri akan menjadi dua kali lipat
dari jumlah sel semula. Jika jumlah sel mula-mula adalah satu, maka populasi
akan bertambah secara geometrik (Purnomo, 2004)
Waktu yang diperlukan untuk membelah
diri dari satu sel menjadi dua sel sempurna disebut waktu generasi. Waktu yang
diperlukan oleh sejumlah sel atau massa sel menjadi dua kali jumlah/massa sel
semula disebut doubling time atau waktu penggandaan. Waktu penggandaan tidak
sama antara berbagai mikrobia, dari beberapa menit, beberapa jam sampai
beberapa hari tergantung kecepatan pertumbuhannya. Kecepatan pertumbuhan
merupakan perubahan jumlah atau massa sel per unit waktu.
1.
Fase-fase pada Kurva Pertumbuhan Mikroorganisme
Pada
pertumbuhan mikroba terdapat empat fase pertumbuhan adalah sebagai berikut
(Budiyanto, 2010):
a.
Fase Adaptasi (fase Lag)
Fase Lag merupakan fase adaptasi.
Pada fase ini terjadi reorganisasi konstituen makro dan mikro molekul. Ada yang
lama ada juga yang cepat. Tergantung kondisi lingkungan. Lamanya fase adaptasi
ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
1) Medium
dan lingkungan pertumbuhan Jika medium dan lingkungan pertumbuhan sama seperti
medium dan lingkungan sebelumnya, mungkin tidak diperlukan waktu adaptasi.
Tetapi jika nutrient yang tersedia dan kondisi lingkungan yang baru berbeda
dengan sebelumnya, diperlukan waktu penyesuaian untuk mensintesa enzim-enzim.
2)
Jumlah inokulum Jumlah
awal sel yang semakin tinggi akan mempercepat fase adaptasi.
3) Fase
adaptasi mungkin berjalan lambat karena beberapa sebab, misalnya: (1) kultur
dipindahkan dari medium yang kaya nutrien ke medium yang kandungan nuriennya
terbatas, (2) mutan yang baru dipindahkan dari fase statis ke medium baru
dengan komposisi sama seperti sebelumnya.
b.
Fase Perbanyakan (Eksponensial)
Fase Eksponensial merupakan fase
pertumbuhan sebenarnya. Jika dilihat dalam kurva akan dilihat kenaikan jumlah
mikroba berdasarkan bertambahnya waktu. Pada fase ini mikroba membelah dengan
cepat dan konstan mengikuti kurva logaritmik. Pada fase ini kecepatan
pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh medium tempat tumbuhnya seperti pH dan
kandungan nutrient, juga kondisi lingkungan termasuk suhu dan kelembaban udara.
Pada fase ini mikroba membutuhkan energi lebih banyak dari pada fase lainnya.
Pada fase ini kultur paling sensitif terhadap keadaan lingkungan. Akhir fase
log, kecepatan pertumbuhan populasi menurun dikarenakan :
a)
Nutrien di dalam medium sudah berkurang.
b)
Adanya hasil metabolisme yang mungkin beracun atau dapat menghambat pertumbuhan
mikroba.
c.
Fase stasioner
Pada
fase ini penambahan dengan pengurangan jumlah mikroba hampir sama. Sehingga di
kurva dapat dilihat berupa garis lurus. Hal ini disebabkan karena mulai
menipisnya jumlah nutrisi dalam médium yang ditempati. Ukuran sel pada fase ini
menjadi lebih kecil karena sel tetap membelah meskipun zat-zat nutrisi sudah
habis. Karena kekurangan zat nutrisi, sel kemungkinan mempunyai komposisi yang
berbeda dengan sel yang tumbuh pada fase logaritmik. Pada fase ini sel-sel
lebih tahan terhadap keadaan ekstrim seperti panas, dingin, radiasi, dan
bahan-bahan kimia.
d.
Fase Kematian
Ada
kalanya setelah fase stasioner jumlah mikroba menurun. Mikroba menghasilkan
metabolisme skunder yang hasilnya menjadi toxic untuk mikroba lainnya. Pada
fase ini sebagian populasi mikroba mulai mengalami kematian karena beberapa
sebab yaitu:
a.
Nutrien di dalam medium sudah habis.
b.
Energi cadangan di dalam sel habis.
Kecepatan
kematian bergantung pada kondisi nutrien, lingkungan, dan jenis mikroba.
Fase
Pertumbuhan
|
Ciri-Ciri
|
Lag
(lambat)
|
Tidak ada pertumbuhan populasi
karena sel mengalami perubahan komposisi kimiawi dan ukuran serta
bertambahnya substansi intraseluler sehingga siap untuk membelah diri.
|
Logaritma
atau eksponensial
|
Sel membela diri dengan laju yang
konstan, massa menjadi dua kali lipat, keadaan pertumbuhan seimbang.
|
Stationary
(Stasioner/tetap)
|
Terjadinya penumpukan racun
akibat metabolisme sel dan kandungan nutrien mulai habis, akibatnya terjadi
kompetisi nutrisi sehingga beberapa sel mati dan lainnya tetap tumbuh. Jumlah
sel menjadi konstan.
|
Death
(Kematian)
|
Sel menjadi mati akibat
penumpukan racun dan habisnya nutrisi, menyebabkan jumlah sel yang mati lebih
banyak sehingga mengalami penurunan jumlah sel secara eksponensial.
|
2. Faktor
Lingkungan Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba
Faktor
lingkungan baik yang abiotik dan biotik merupakan faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan mikroba (Syariffauzi, 2006)
a. Konsentrasi nutrien
Konsentarasi
nutrien sangat menentukan kecepatan transport nutrient ke dalam sel. Pada
konsentrasi rendah, transpor lebih sulit dilakukan sehingga mempengaruhi
ketersediaan nutrient di dalam sel.
b. Temperatur
Temperatur
mempengaruhi pertumbuhan mikroba karena enzim yang menjalankan metabolisme
sangat peka terhadap temperatur. Berdasarkan
temperature minimum, optimum dan maksimum, mikroba dapat digolongkan menjadi
tiga kelompok.
1.
Mikroba termofilik (politermik) : batas temperatur minimum dan maksimum anatara
40 0 C sampai dengan 80 0 C sedangkan temperature optimumnya 55 0 C – 65 0 C
2.
Mikroba mesofilik (mesotermik): batas temberatur antara 5 0 C – 60 0 C
sedangkan temperatur optimumnya antara 25 0 C – 40 0 C.
3.
Mikroba psikrofil (oligotermik): batas temperatur antara 0 0 C - 30 0 C
sedangkan temperature optimumnya antara 10 0 C – 20 0 C
c. pH
Enzim,
transpor elektron dan sistem transpor nutrient pada membran sel mikroba sangat
peka terhadap pH, dimana mikroba pada umumnya menyukai pH netral (pH 7),
kecuali jamur umumnya dapat hidup pada kisaran pH rendah . Apabila mikroba
ditanam pada media dengan pH 5 maka pertumbuhan didominasi oleh jamur, tetapi
apabila pH media 8 maka pertumbuhan didominasi oleh bakteri. Berdasarkan pH
minimum, optimum dan maksimum untuk pertumbuhan, mikroba dapat digolongkan
menjadi :
1.
Mikroba asidofilik : pH antara 2,0 – 5,0
2.
Mikroba mesofilik : pH antara 5,5 – 8,0
3.
Mikroba alkalifilik : pH antara 8,4 – 9,5
d. Tekanan osmosis
Tekanan
osmosis sangat erat hubungannya dengan kandungan air, dimana konsentrasi zat
terlarut akan menetukan tekanan osmosis suatu larutan. Semakin tinggi
konsentrasi zat terlarut semakin tinggi pula tekanan osmosis tersebut. Demikin
pula sebaliknya, tekanan osmosis mempengaruhi sel mikroba karena berkaitan
dengan air bagi sel mikroba. Mikroba yang tahan pada tekanan osmosis tinggi
disebut mikroba osmofilik, misalnya khamir yang tumbuh dalam sirup. Sedangkan
mikroba yang tahan pada kadar garam tinggi disebut dengan halofilik. Apabila
mikroba diletakkan pada larutan hipertonis, maka selnya akan mengalami
plasmolisis, yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat
mengkerutnya sitoplasma. Apabila diletakkan pada larutan hipotonis, maka sel
mikroba akan mengalami plasmoptisa, yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke
dalam sel, sel membengkak dan akhirnya pecah.
e. Oksigen
Meskipun
banyak mikroba yang tidak dapat tumbuh bila tidak tersedia oksigen tetapi ada
pula mikroba yang tidak dapat tumbuh bila ada oksigen bebas. Berdasarkan keperluan
oksigen ini maka mikroba ada yang bersifat aerob, anaerob anaerob fakultatif
dan mikroaerofil.
f. Senyawa toksik
Ion-ion
logam berat seperti Hg, Ag, Cu, Zn, Li, dan Pb walaupun pada kadar yang sangat
rendah akan bersifat toksis terhadap mikroba karena ion-ion logam berat
bereaksi dengan gugusan senyawa sel. Daya bunuh logam berat pada kadar rendah
disebut daya oligodinamik.
g. Radiasi
Umumnya
cahaya mempunyai daya merusak kepada sel mikroba yang tidak mempunyai pigmen
fotosintesis. Jika energi radiasi diabsorpsi oleh mikroba akan menyebabkan
terjadinya ionisasi komponen sel. Energi radiasi sinar x, sinar γ dan terutama
sinar ultra violet banyak digunakan untuk sterilisasi, pengawetan bahan makanan
dan untuk mendapatkan muatan.
1.
Hubungan antara spesies
Di
alam, mikroba tidak tumbuh dalam kultur murni. melainkan tumbuh bersama mikroba
bahkan organism lainnya. Oleh karena itu, dapat terjadi saling mempengaruhi
antar mikroba satu dengan yang lainnya.
a. Mutualisme
Mutualisme
merupakan hubungan antara dua spesies dimana masinmasing spesies mendapat
keuntungan. Contoh : bakteri Rhizobium dengan Leguminosae
b. Komensalisme atau metabiosis
Komensalisme
merupakan hubungan antara dua spesies dimana satu spesies mendapat keuntungan
sedang yang lain tidak diuntungkan. Contoh : Saccharomyces dengan Acetobacter
c. Parasitisme
Parasitisme
merupakan hubungan antara dua spesies dimana satu pihak diuntungkan sedangkan
yang lainnya dirugikan. Contoh : bakteriofage dengan bakteri
d. Antagonisme/Antibiosis/Amensalisme
Antagonisme
merupakan hubungan antara dua spesies dimana salah satu akan terhambat atau
terbunuh pertumbuhannya karena senyawa yang dihasilkan oleh spesies yang lain.
Contoh : pigmen biru Psedomonas
deruginosa
e. Sinergisme
Sinergisme
merupakan hubungan antara spesies dimana kegiatan masing-masing berupa suatu
urut-urutan yang saling menguntungkan. contoh : pembuatan tape yang mengandung Aspergillus, Saccharomyces, Candida,
Hansenula dan Acetobacter .
f. Kompetisi
Kompetisi
merupakan bentuk hubungan antar spesies dimana terjadi persaingan karena adanya
keperluan yang sama. Spesies yang dapat bertahan yang akan mengalami
pertumbuhan paling subur. Misalnya bila persediaan oksigen dalam suatu medium
berkurang, maka bakteri aerob akan dikalahkan oleh bakteri aerob fakultatif.
Jika persediaan oksigen habis, maka pertumbuhan bakteri anaerob fakultatif akan
berhenti sedang bakteri anaerob akan tumbuh subur.
2.
Bebas Hama
Hewan
percobaan yang bebas mikroba disebut mengalami kehidupan aksenik atau tanpa
benda-benda asing. Hewan aksenik yang telah diinfeksi dengan suatu jasad
disebut gnotobiosis. Misalnya marmut gnotobiosis yang diinfeksi dengan Entamoeba histolytica tidak menderita
penyakit disentri karena di dalam usus marmut gnotobiosis tidak terdapat
bakteri yang berfungsi sebagai makanan Entamoeba
histolytica . Bakteri tersebut tidak mampu berkembang biak sehingga tidak
mampu menyebabkan penyakit.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mikroorganisme
jenis bakteri adalah kelompok mikroorganisme yang paling penting dan beraneka
ragam, bakteri merupakan salah satu mikroba yang mempengaruhi kehidupan
manusia. Adapun metode untuk melipatgandakan jumlah mikroba yaitu dinamakan
dengan kultivasi bakteri yaitu dengan cara membiarkan mereka berkembang biak
dalam media biakan yang telah disiaapkan di bawah kondisi laboratorium
terkendali. Ada berbagai teknik kultivasi bakteri antara lain, teknik
penyebaran ( the spread-plate technique ), teknik goresan ( the streak-plate
technique ), dan teknik lempeng tuang ( pour plate technique ).
Bakteri
berkembang biak secara seksual dan aseksual. Perkembangbiakan aseksual
dilakukan dengan pembelahan biner. Perkembangbiakan secara seksual dilakukan
tanpa melibatkan gamet dan peleburan sel, tetapi berupa pertukaran materi
genetic atau DNA.
Pertumbuhan
untuk bakteri mengacu pada perubahan di dalam pertambahan massa sel dan bukan
perubahan pada individu.
B. Saran
Kami
menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Maka dari itu
kami dari kelompok sangat mengharapkan kritik dan saran dari seluruh pihak demi
sempurnanya makalah ini dan sebagai sperbaikan dalam pemnuatan makalah –
makalah berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Agus
Krisno Budiyanto. 2004. Mikrobiologi
Terapan. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Aguskrisno.
2011. Patogenitas Mikroorganisme Dalam
Kajian Mikrobiologi Kesehatan. http://aguskrisnoblog.wordpress.com.
Anonim.
2011. Kultivasi Mikroba. http://zonabawah.blogspot.com/2011/08/tujuan-kultivasi- mikroba.html
(Diakses pada tanggal 6 April 2019)
Anonim.
2013. Reproduksi Bakteri. http://annasyalala.blogspot.com/2013/06/reproduksi- bakteri.html
(Diakses pada tanggal 6 April 2019)
Anonim.
2014. Pertumbuhan Mikroba. http://salambiologi.blogspot.com/2014/11/makalah- pertumbuhan-mikroba-biologi.html.
(Diakses pada tanggal 6 April 2019)
Dzen,
S. M,. 2003. Bakteriologik Medik.
Malang: Bayumedia.
Hidayat,
dkk. (2006). Mikrobiologi Industri.
Yogyakarta: C.V Andi Offset.
Jawetz,
E., Melnick, J. L., Adelberg, E. A., 1996, Mikrobiologi
Kedokteran, Edisi ke-20, 213, EGC,
Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta
Purnomo
Hari., 2004. Pengantar Teknik Industri. Graha
ilmu,Yogyakarta.
Singleton, P., dan Sainbury, D. 2001. Dictionary of
Microbiology and Molecular Biologi, 3rd Edition.
John
Suriawiria,Unus,
1980. Mikrobiologi Umum. Departemen
Biologi FMIPA. ITB. Bandung.
Komentar
Posting Komentar